@BKS hadir untuk mengungkap KEKRISTENAN yang dianggap TABU ...TINGGALKAN JEJAK ANDA DI KOLOM KOMENTAR ...terima kasih....

Minggu, 24 April 2011

10 Hukum Taurat dalam Al Qur'an


1.Tiada Tuhan selain Allah
Qs. Al-hasyr 23. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

2.jangan menyembah berhala
Qs.Al-Baqarah 22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu mengetahui.
[30]. Ialah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.

3.Mempersekutukan Tuhan (syirik)
Qs. An-nisaa 116. Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

4.kuduskan hari sabat
Qs. Al Jumu’ah 9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui
[[1475]. Maksudnya: apabila imam telah naik mimbar dan muazzin telah azan di hari Jum'at, maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalakan semua pekerjaannya.

Dalam Islam hari sabat (hari ketujuh) adalah jatuh pada hari Jum’at atau sering disebut di amerika dengan unkapan GIF= The Great day Is Friday, karena memang jum’at hari agung.

5.hormati orang tua mu
Qs. Al-Israa’ 23. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia[850].
[850]. Mengucapkan kata ah kepada orang tua tidak dlbolehkan oleh agama apalagi mengucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar daripada itu.

6.jangan membunuh
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu[287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
[287]. Larangan membunuh diri sendiri mencakup juga larangan membunuh orang lain, sebab membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, karena umat merupakan suatu kesatuan..

7.jangan berzinah
Qs. An Nuur 3. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin[1028].
[[1028]. Maksud ayat ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

8.jangan Mencuri
Qs. Al-Maa’idah 38. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

9.Sumpah Palsu
Qs. At Taubah 42. Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: "Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu." Mereka membinasakan diri mereka sendiri[644] dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.
[644]. Maksudnya mereka akan binasa disebabkan sumpah mereka yang palsu

10.jangan menginginkan yang bukan milik atau hak kita. (Harta warisan dan harta anak yatim)
Qs. Al-Baqarah 180. Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf[112], (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.
[112]. Ma'ruf ialah adil dan baik. Wasiat itu tidak melebihi sepertiga dari seluruh harta orang yang akan meninggal itu. Ayat ini dinasakhkan dengan ayat mewaris.

Qs. An Nisaa’ 2. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.

PENJELASAN MENGENAI KITAB BIBEL



Kitab Perjanjian Lama

Bibel terdiri dari dua kitab utama yaitu Kitab Perjanjian Lama (The Old Testament) dan Kitab Perjanjian Baru (The New Testament). Kitab Perjanjian Lama sering disebut sebagai Kitab TENAKH, terdiri dari tiga bagian yaitu Tora, Nebi’im, dan Ketubim.

Tora atau Taurat berarti pengajaran. Kitab Taurat ini memuat lima kitab, yaitu Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Nebi’im berarti kitab nabi-nabi terkemudian, yang terdiri dari kitab nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria, dan Maleakhi. Ketubim berarti pujian, terdiri dari kitab-kitab Zabur atau Mazmur, Amsal Sulaiman, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, Tawarikh I, dan Tawarikh II.

Meskipun umat Kristen Protestan dan Katolik Roma sama-sama mengakui Bibel sebagai kitab suci mereka, namun toh Bibel yang mereka gunakan berbeda. Bible Katolik Roma lebih tebal dibandingkan dengan Bibel Kristen Protestan karena jumlah kitab pada Kitab Perjanjian Lama Katolik Roma lebih banyak 9 buah dibandingkan yang digunakan Kristen Protestan. 9 kitab tersebut dianggap oleh Gereja Protestan tidak layak dianggap sebagai kitab suci. (Subhanallah, ini yang salah apakah karena 9 kitab tersebut sebenarnya buatan manusia biasa atau manusianya yang merasa bisa menentukan kesucian firman Tuhan?!)

Perjalanan panjang kitab Taurat berawal dari wafatnya Nabi Sulaiman tahun 992 SM. Kerajaan beliau selanjutnya terpecah menjadi dua, di utara dinamakan Kerajaan Israel dengan ibukota Samaria, dan di selatan dinamakan Kerajaan Yehuda dengan ibukota Yerusalem. Yerusalem adalah tempat penyimpanan naskah asli Taurat sehingga warga Israel sering beribadah di Yerusalem. Tindakan itu membuat raja Israel tersinggung, dan mengubah kota Bethel sebagai pusat peribadatan baru dan membuat patung-patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan. Akhirnya, rakyat Israel kembali pada ajaran paganisme (menyembah berhala). Karena rakyat Israel sudah kembali terbiasa menyembah berhala, maka mereka pun lambat laun melupakan kitab Taurat. Allah memberikan adzab kepada mereka melalui bangsa Asyur yang melakukan pembuangan masyarakat Israel dan melakukan kawin campur secara paksa sehingga terjadi asimilasi keturunan dan kepercayaan.

Bangsa Yehuda sendiri juga mulai melanggar banyak hukum Taurat sehingga Allah menghancurkan mereka, melalui raja Babylonia, Nebukanedzar. Tempat-tempat ibadah mereka, termasuk tempat penyimpanan naskah asli Taurat dihancurkan. Nebukanedzar juga memaksa bangsa Yehuda melakukan kawin campur sehingga terjadi pula asimilasi kebudayaan. Karena dua kejadian ini, maka baik masyarakat Israel maupun Yehuda banyak yang melupakan bahasa Ibrani.

Nabi Uzair as pernah mencoba menulis ulang kitab Taurat nabi Musa as dalam bahasa Aram, karena bangsa Yahudi sudah banyak yang tidak bisa berbahasa Ibrani lagi. Naskah berbahasa Aram ini sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang dikenal sebagai Naskah Septuaginta. Namun kedua naskah tersebut hilang pada abad 2SM.

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa kitab Taurat nabi Musa as sudah lenyap sejak abad ke-6 SM. Begitu pula salinan Nabi Uzair dan naskah Septuaginta. Lalu siapa yang menulis Ktab Perjanjian Lama yang sekarang digunakan umat Kristen Protestan dan Katolik Roma? Tdak ada umat Kristen yang dapat menjawab pertanyaan sederhana ini.

Kitab Perjanjian Baru

Kitab Perjanjian Baru terdiri dari empat kitab Injil (karangan Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes), 13 surat yang ditulis Paulus, 3 surat Yohannes, 1 surat Yakobus, 1 surat Yudas, 2 surat Petrus, 1 surat Lukas kepada orang Ibrani, dan Wahyu kepada Yohannes. Semua surat yang ditulis Paulus, Yakobus, Yohannes, Yudas, Petrus, dan lain-lain jelas bukan firman Tuhan. Bagaimana dengan empat kitab Injil tersebut?

Nama yang melekat di belakang kata Injil adalah nama penulis Injil tersebut, yaitu Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes. Namun siapakah keempat orang tersebut?

Tidak ada keterangan yang jelas. Matius dan Yohannes penulis Injil bukanlah Matius dan Yohannes, dua dari 12 murid pilihan Yesus. Matius dan Yohannes sendiri yang menyatakan secara eksplisit dalam Injil mereka bahwa mereka bukan murid-murid Yesus. Bagaimana dengan Markus dan Lukas? Sama saja, tidak ada yang mengetahui siapa mereka sebenarnya. Matius, Markus, Yohannes, dan Lukas benar-benar sosok misterius dalam sejarah penulisan Injil. Betapa anehnya, kitab suci yang seharusnya digunakan sebagai pedoman hidupternyata ditulis oleh sosok-sosok manusia yang tdakjelas identitasnya!! Apabila penulisnya saja sudah tidak jelas, bagaimana mungkin kita dapat meyakinkebenaran isinya?

Lalu, bagaimana asal mula umat Kristen menetapkan keempat Injil tersebut sebagai kitab suci kalau memang penulisnya tidak diketahui? Hal ini tidak terlepas dari kondisi penyebaran agama Kristen sekitar abad 2-3M. Saat itu begitu banyak Injil yang beredar dan digunakan sebagai kitab suci. Konsili di Nicea tahun 325M mengumpulkan puluhan Injil yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda, kemudian dipilih empat Injil secara random yang kemudian ditetapkan oleh Konsili dan Kaisar sebagai kitab suci yang resmi digunakan. Sedangkan puluhan Injil yang lain dimusnahkan.

Melihat sejarahnya yang seperti itu, tidak heran apabila Ahmed Deedat menyatakan bahwa ada 50.000 kesalahan dan pertentangan dalam Kitab Bibel Revised Standard Version terbitan tahun 1952 dan 1971. (Meskipun pada Bibel New Revised Standard Version kesalahan tersebut sudah dikurangi dan direvisi oleh manusia biasa.)

Kamis, 21 April 2011

Mengaku Sarjana Islam, Pendeta Terbongkar Kedoknya

Bintaro (voa-islam.com) - Di kalangan Kristen, Pendeta Samuel Hermawan dikenal sebagai ahli islamologi mantan Muslim. Namanya mulai naik daun ketika Samuel menuliskan pengalaman rohaninya mengapa ia beralih meninggalkan Islam dan kini menjadi pendeta. Dalam testimoni berjudul “Yesus adalah Tuhan dan Raja,” Samuel menuliskan sbb:

“Saya dulunya dari muslim tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung. Saya ingin memberikan kekuatan untuk para sahabat sekalian orang-orang Kristen bahwa apa yang kalian sembah itu adalah benar-benar Tuhan dan Juruselamat. Yesus adalah Tuhan dan Raja sesuai yang tercantum dalam Al Quran, Hadist dan Injil.”
Dalam sebuah dialog Islam dan Kristen, dusta Pendeta Samuel terbongkar. Ternyata dia bukan mantan muslim, terbukti karena ia tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an. Pengakuannya sebagai ahli islamologi lulusan pesantren dan Sarjana Islam lulusan STAIN Bandung, adalah kebohongan besar untuk memuluskan Kristenisasi.
Pendeta Samuel mengaku tamatan sebuah pesantren dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Bandung...
Bermula ketika Indarwati, bukan nama sebenarnya, yang mempengaruhi kakak kandung, orang tua dan pamannya untuk masuk Kristen.

Empat tahun yang lalu, Indarwati menikah secara Islam dengan seorang pemuda. Seluruh keluarga Indar merestui pernikahan itu, karena beranggapan, sang mempelai pria itu adalah seorang Muslim yang taat beragama.

Belakangan, setelah Indar dikaruniai seorang anak, keluarganya baru tahu kalau suami Indar adalah seorang pendeta. Namun ia tidak mengaku pura-pura Muslim ketika menikah. Kilahnya, kekristenan itu ia terima setelah pernikahan. Kini, Indar sudah berganti iman menjadi aktivis gereja, mengikuti jejak suaminya. Bahkan seorang adiknya berhasil ditarik menjadi seorang Kristen.
Ketika Indar mempengaruhi Eddy, pamannya, untuk masuk Kristen,  terjadilah percekcokan ringan. Eddy paman adalah mantan aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia).

“Kamu ini, kok bisa-bisanya masuk Kristen dan ngajak-ngajak keluarga untuk masuk Kristen?” tanya sang paman.

“Ya.. karena sekarang saya tahu kalau Kristen itu jauh lebih baik dari Islam, paman,” jawab Indra santai.

“Siapa sebenarnya yang mempengaruhimu kok sekarang jadi seperti ini?” tanya sang paman lagi.

“Saya tidak dipengaruhi siapa-siapa, paman. Tuhan Yesus sendiri yang memanggil saya. Sekarang saya tahu bahwa Kristen itu kasih dan menyelamatkan,” terang Indra.

“Apa buktinya kalau Kristen itu menyelamatkan dan lebih baik dari Islam?” selidik sang paman.

“Saya tidak bisa menjelaskan secara detil, paman. Kalau Paman ingin tahu jawabannya, nanti saya panggil pendeta saya. Pendeta Samuel Hermawan adalah ahli islamologi, lulusan pesantren dan STAIN Bandung. Paman bisa bertanya sepuasnya tentang kekristenan kepada pak pendeta,” jawab Indra. Maka disepakatilah pertemuan dialog agama di rumah sang paman.

Ahad malam, 15 November 2009, di Bintaro diadakan pertemuan sederhana. Tapi sang paman tidak mau menghadapi sendiri. Karena penasaran, kok ada lulusan pesantren dan sarjana Islam yang bisa pindah iman, maka ia mengundang sanak saudara dan para tetangga. Tidak lupa, ia mengundang Insan Mokoginta Wenceslaus, ustadz yang mantan Kristen. 

Pendeta Samuel Hermawan datang tidak sendirian. Ia itemani beberapa pendeta, pekerja gereja dan beberapa jemaat setianya. Dengan dandanan yang klemis dengan baju  batik coklat yang dikenakannya, ia tampil sangat percaya diri. Seluruh materi islamologi yang akan dipresentasikan sudah disiapkan dalam laptop dan infocus, lengkap dengan seorang wanita operatornya.Dialog dimulai pukul 8 malam, disaksikan lima puluhan pendengar dari kalangan Islam dan Kristen.
Setelah memperkenalkan diri, Samuel mulai menerangkan ketuhanan Yesus berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Puluhan ayat Al-Qur’an ditampilkan di layar infocus. Insan yang sudah tidak asing dengan makalah itu menyela, “Maaf Pak Pendeta, paparan yang anda tampilkan itu sebenarnya bukan pemikiran anda. Anda hanya mengutip brosur Kristen “Rahasia Jalan ke Surga” yang memakai nama penerbit palsu Dakwah Ukhuwah. Saya sudah menjawabnya dalam buku “Muallaf Membimbing Pendeta ke Surga” tahun 1999.

Meski tak bisa membantah bahwa presentasi makalahnya sama persis dengan brosur Dakwah Ukhuwah, Samuel kekeuh menyangkalnya, dan terus melanjutkan ceramah.

“Yesus alias Nabi Isa adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa Yesus bisa menyembuhkan orang buta sejak lahir. Bahkan Yesus bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Mari kita renungkan. Selain Tuhan, siapa yang bisa memberi nyawa kepada orang mati. Karena Yesus bisa menghidupkan orang mati, maka dia adalah Tuhan,” jelasnya.

Insan membantah, “Saya tahu, ayat Al-Qur’an yang anda maksudkan adalah surat Ali Imran 49 dan Al-Ma’idah 110. Tapi ayat ini jangan dibaca sepotong saja. Bila dibaca secara utuh, seluruh mukjizat Nabi Isa itu selalu diiringi dengan kalimat ‘bi-idznillah’ yang artinya dengan seizin Allah. Jadi, seluruh mukjizat itu bukan karena kehebatan Nabi Isa, tapi karena izin dan pemberian Allah. Karenanya, yang menyembuhkan dan menghidupkan itu bukan Nabi Isa, melainkan Allah SWT,” katanya.Samuel tak dapat membantah argumen ini, lalu beralih ke pembicaraan lain. Ia menyatakan bahwa menurut Injil Lukas, tidak semua perbuatan Yesus ditulis dalam Injil. Karena tidak ada kitab yang bisa memuat seluruh ajaran Yesus. 

“Tolong Pak Pendeta baca, Injil Lukas yang anda maksud tersebut!” tanya Insan menimpali. “Wah, saya tidak hafal ayatnya, Pak,” jawabnya singkat.“Tolong pendeta yang lain atau jemaat membaca Injil Lukas yang dimaksud,” tanya Insan kepada jemaat Kristen. Karena tak mendapat jawaban apapun dari pihak Kristen, maka Insan menjawab pertanyaannya sendiri.“Sebetulnya, ayat yang dimaksudkan Pendeta Samuel itu bukan Injil Lukas, tapi Injil Yohanes 25:21. Kalau tidak percaya silakan baca ayat tersebut,” Insan mempersilakan. Jemaat pun membaca ayat yang dimaksud, ternyata betul. Mereka semakin gusar.

Ternyata Sarjana Islam Gadungan
Ketika ingin membuktikan ketuhanan Yesus sebagai orang yang tahu hari kiamat, Samuel mengutip terjemahan Al-Qur’an surat Luqman ayat 34: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.”Penasaran dengan banyaknya kutipan ayat yang hanya dibaca terjemahannya saja, Insan minta Samuel untuk membaca nas Arabnya.
Nyalinya runtuh ketika dites membaca nas Arab Al-Qur'an. Ternyata Pendeta itu bukan lulusan pesantren karena tidak tahu baca-tulis huruf Arab...
“Pak Pendeta, dari tadi anda hanya membaca terjemahan ayat tanpa membaca nas Arabnya. Anda kan ngaku lulusan pesantren dan sarjana Islam, tolong baca nas Arabnya!” pintanya.
Tak disangka, permintaan Insan ini meruntuhkan nyali sang pendeta. Beberapa menit ia hanya memandangi presentasi di layar in focus. Mulutnya terkatup, sesekali ia memandangi jemaatnya, dan sesekali menundukkan wajahnya yang mulai memucat. 

Jemaat dan para pendeta yang hadir pun nampak gusar, malu dan salah tingkah di hadapan puluhan hadirin Muslim. Pendeta Samuel Hermawan yang selama ini mereka elu-elukan sebagai ahli islamologi, lulusan pesantren dan sarjana Muslim, ternyata tak lebih pintar dari siswa TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Sementara hadirin dari pihak Islam sebagian tertawa, sebagian geleng-geleng dan sebagian bertepuk tangan. Mereka terheran-heran terhadap Samuel Hermawan yang ditokohkan dan dihormati di gereja, padahal mereka selama ini dicekoki dengan kesaksian dusta.
“Pak Samuel ini aneh sekali. Bagaimana bisa jadi pendeta dan mengaku ahli islamomogi? Padahal anda tidak menguasai Bibel dan tidak paham Al-Qur’an? Mana mungkin anda bisa memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk kepentingan kristenisasi, padahal anda tidak mengerti baca-tulis Al-Qur’an? Tolong anda beragama yang jujur saja, jangan menipu jemaat” kata Insan menasihati.

Situasi dialog jadi tidak imbang, Insan yang jauh di atas angin, seperti dosen menceramahi anak SD. Tepat pukul 10 malam acara diakhiri, tuan rumah mempersilakan seluruh hadirin untuk menikmati makan malam yang sudah disediakan secara mewah. Terlanjur malu, Pendeta Samuel dan seorang pendeta lainnya buru-buru pamitan pulang meninggalkan para jemaatnya yang sudah membaur bersama hadirin lainnya di meja hidangan.

Seorang peserta yang sangat kecewa terhadap Pendeta Samuel berkomentar, “Katanya lulusan pesantren dan sarjana Islam, gak tahunya seperti ayam sayur,” kata pria berusia 60 tahun yang datang jauh-jauh dari Depok, Jawa Barat. Ternyata Pendeta Samuel adalah "Drs" alias durung rampung sekolah, toh. [taz/voa-islam]

'Tuhan' Yesus versus Tuhannya Yesus

 

Dalam buku A Question that Demans an Answer (Jawaban yang Disingkap­kan), seorang misionaris yang menamakan diri Abd Al-Masih membanding-bandingkan antara Yesus dan Muhammad. Perbandingan ini dilakukan secara licik dengan mencomot dalil-dalil Al-Qur‘an dan Hadits yang tidak semestinya. Dengan komparasi yang tidak memadai, akhirnya disimpulkan bahwa Yesus lebih hebat daripada Nabi Muham­mad, karena Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat Penebus Dosa.

Perbandingan yang dilakukan oleh Penginjil Abd Al-Masih ini salah sasa­ran dan tidak logis, karena berang­kat dari logika yang keliru. Jika menurutnya Yesus adalah tuhan dan Muhammad adalah manusia biasa (bukan Tuhan), maka menim­bang dan membanding-bandingkan keduanya adalah tindakan yang ngawur. Membanding­kan manusia dengan tuhan adalah perbuatan yang sia-sia, karena sudah sangat jelas keduanya jauh berbeda.
Seharusnya, jika Penginjil Abd Al-Masih mengakui Yesus sebagai Tuhan, maka lawan perbandingan yang sejajar adalah Tuhan Allah SWT. Mari kita bandingkan secara ilmiah, antara Yesus yang dipertahankan oleh umat Kristen dengan Tuhannya Yesus yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
..jika umat Kristen mengakui Yesus sebagai Tuhan, maka lawan perbandingan yang sejajar adalah Tuhan Allah SWT. Mari kita bandingkan secara ilmiah, antara Yesus yang dipertahankan oleh umat Kristen dengan Tuhannya Yesus yaitu Allah SWT...
Pertama, Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
“…Demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (II Korintus 6:18).
“Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat” (Yesaya 40:26).
Sedangkan Yesus tidak maha kuasa, karena dia tidak berbuat apa-apa tanpa kehendak Allah.
“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang aku dengar, dan penghakimanku adil, sebab aku tidak menuruti kehen­dakku sendiri, melainkan ke­hendak Dia yang mengutus aku” (Yohanes 5:30).
Kedua, Allah adalah Tuhan yang menyelamatkan.
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (Mazmur 34:19).
Sedangkan Yesus dalam Bibel minta keselamatan kepada Tuhan (Yohanes 12:27), dan tidak bisa menyelamatkan dirinya ketika disiksa, diolok-olok, diludahi dan dibunuh (Markus 10:33-34).
..Allah adalah Tuhan yang menyelamatkan, sedangkan Yesus dalam Bibel tidak menyelamatkan, tapi minta keselamatan kepada Tuhan...
Ketiga, Allah adalah Tuhan Yang Maha Tahu.
“Karena Tuhan itu Allah yang Maha Tahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji” (I Samuel 2:3).
Sedangkan Yesus tidak maha tahu, karena ia tidak tahu kapan hari kiamat (Matius 24:36), tidak tahu musim (Markus 11:13), tidak tahu siapa yang menjamahnya (Lukas 8:45-46), kesaksiannya salah (Yohanes 5:31), dan ramalannya meleset (Lukas 22:34, Matius 26:34, Yohanes 13:38 & Markus 14:67-72).
Keempat, Allah adalah Tuhan yang tidak dapat dicobai oleh yang jahat.
“Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat” (Yakobus 1:13).
Sedangkan Yesus dicobai oleh iblis yang jahat di padang gurun.
“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis” (Matius 4:1).
Kelima, Allah adalah Tuhan Yang mengabulkan doa.
“Engkau (Allah) yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup” (Mazmur 65:3).
“Tuhan itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya” (Amsal 15:29).
Maka tidak layak jika Tuhan berdoa minta sesuatu kepada yang lain.
Sedangkan Yesus berdoa kepada Allah.
“Maka Yesus maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, katanya: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).
Keenam, Allah adalah Tuhan Yang Maha Hidup dan tidak takluk kepada maut.
“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal!” (I Timotius 6:16).
Sedangkan dalam Bibel diceritakan Yesus mati terbunuh mengenaskan jam tiga sore di atas gantungan tiang salib hanya mengenakan sehelai kain yang menutupi kemaluannya (Lukas 23:44-46).
..Allah adalah Tuhan Yang Maha Hidup dan tidak takluk kepada maut, sedangkan dalam Bibel diceritakan Yesus mati terbunuh mengenaskan jam tiga sore...
Ketujuh, Allah adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi yang tidak tidur dan tidak terlelap.
“…Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel” (Mazmur 121:2-4).
Sedangkan Yesus tidur seperti manusia biasa lainnya.
“Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur” (Matius 8:24).
“Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-muridnya membangunkan dia dan berkata kepadanya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (Markus 4:38).
Siapa yang layak kita sembah, Yesus atau Tuhannya Yesus?
Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Menyelamatkan, Maha Tahu, Maha Hidup, dan Mengabulkan doa. Karenanya, Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan tidak butuh tidur.
Sedangkan Yesus tidak sama dengan Tuhan karena dia hanyalah seorang manusia yang dipilih menjadi nabi utusan Tuhan. Yesus juga tidak maha kuasa, karena dia tidak berbuat apa-apa tanpa kehendak Allah dan tidak maha hidup karena ia takluk kepada maut (menurut Bibel, Yesus mati tragis jam 3 sore di atas gantungan tiang salib). Karenanya, menurut Bibel, pantas jika Yesus bisa dicobai oleh iblis yang jahat dan tidak bisa menye­lamatkan dirinya dari siksaan dan pembunu­han di tangan orang kafir.
..Jika Penginjil Abd Al-Masih beserta jemaat dan umat Kristen mengaku sebagai pengikut Yesus, seharusnya mereka bertuhan kepada Tuhannya Yesus yaitu Allah SWT...
Karena bukan Tuhan melainkan hanya utusan Tuhan, maka Yesus selalu berdakwah meng­ajak umatnya untuk bertauhid menyem­bah Allah, Tuhan Yang Esa.
“Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12: 29).
Dakwah tauhid Nabi Isa kepada kaumnya ini dicatat dalam Al-Qur‘an:
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus” (Qs Maryam 36).
Jelaslah bahwa Yesus bukan Tuhan. Yesus berdoa dan beribadah kepada Tuhannya yaitu Allah SWT. Jika Penginjil Abd Al-Masih beserta jemaat dan umat Kristen mengaku sebagai pengikut Yesus, seharusnya mereka bertuhan kepada Tuhannya Yesus yaitu Allah SWT. [taz/A. Maria Mumtazah/voa-islam.com]

Menggugat Hari Wafat Isa Almasih alias Hari Ulang Tahun Kematian Tuhan

Bagi umat Islam, istilah hari wafat Isa Almasih ini kurang tepat, karena menurut aqidah Islam, Nabi Isa AS tidak mati dan tidak pula disalib. Agama yang meyakini kematian Yesus di tiang salib adalah Kristen. Maka istilah yang lebih tepat adalah Hari Kematian Yesus Kristus. Karena dalam pandangan Kristen, Yesus adalah salah satu oknum Tuhan, maka istilah yang lebih pas lagi adalah “Hari Ulang Tahun Kematian Tuhan Kristiani.” Di kalangan Kristen, hari kematian Yesus itu masyhur dengan sebutan Jum’at Agung.


Ulang tahun kematian Yesus di tiang salib adalah salah satu inti iman Kristiani. Dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli (Credo Nicaeano-Constantinopolitanum), umat Kristen memakai tiga perkataan untuk menekankan keyakinan akan kematian Yesus: “Dan kepada Yesus Kristus, Anaknya yang tunggal, Tuhan kita... disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut.”

Sedemikian pentingnya makna salib dalam iman kristiani, sehingga tanpa adanya penyaliban Yesus, maka gugurlah keyakinan Kristen tentang dosa waris, penebusan dosa, Trinitas, dan ketuhanan Yesus.

Terkait dengan Hari Ulang Tahun Kematian Yesus, beberapa waktu lalu penulis mendapati buku berjudul Memfitnah Yesus karya Dr Erwin Lutzer di toko buku Gramedia. Buku setebal 167 halaman yang diterbitkan oleh Light Publishing Jakarta ini adalah terjemahan dari edisi asli dalam bahasa Inggris Slandering Jesus.

Secara khusus, buku apologetika kristiani ini didedikasikan untuk memerangi berbagai pandangan teologi yang menentang doktrin Kristen tentang penyaliban, kematian dan ketuhanan Yesus Kristus. Dengan telak, Erwin menuding paham-paham tentang Yesus yang bertolak belakang dengan Kristen sebagai kebohongan.

Dalam bab II, secara khusus Erwin menghantam Al-Qur'an sebagai kebohongan, karena membantah penyaliban Yesus. Dalam judul “Kebohongan 2: Yesus Tidak Disalibkan.” Di bawah judul tersebut, ia mencantumkan terjemah Al-Qur'an surat An-Nisa’ 157” (hlm. 39).

Menurut Erwin, kisah Al-Qur'an tentang kegagalan penyaliban Yesus adalah kebohongan. Alasannya, jika Tuhan menggagalkan penyaliban dengan membuat orang Yahudi salah tangkap, berarti Tuhan dalam Al-Qur'an bersalah atas tindak penipuan. Erwin menulis:
“Menurut Al-Qur'an, orang-orang Yahudi tidak berhasil membunuh Yesus, yang disebut sebagai rasul Tuhan.  Beberapa penerjemah Muslim mengatakan bahwa orang-orang Yahudi membunuh seseorang yang dibuat Yesus tampak seperti Yesus. Tetapi hal ini akan membuat Tuhan bersalah atas penipuan dan ilusi. Mengapa Tuhan mau ikut serta dalam suatu tindakan yang menipu dan tidak jujur dengan menciptakan seseorang yang tampak seperti Yesus dan membuat orang yang tidak bersalah ini mati sebagai ganti Yesus? Tuhan pastinya bersalah karena tindak penipuan, memimpin orang-orang untuk percaya bahwa yang disalibkan itu adalah Yesus padahal kenyataannya itu adalah orang lain.” (hlm. 41).
Ayat Al-Qur'an yang digugat DR Erwin adalah sbb: “Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa” (Qs An-Nisa’ 157).

Menurut ayat tersebut, orang-orang kafir tidak berhasil menangkap dan menyalib Nabi Isa, apalagi sampai membunuhnya. Karena yang mereka tangkap lalu mereka salibkan ialah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa.
...laporan penyaliban dalam Bibel penuh kontradiktif dan keraguan...
Para mufassir memahamkan surat An-Nisa’ 157 bahwa Nabi Isa sama sekali tidak disalib dan dibunuh, karena yang disalib dan dibunuh adalah orang lain yang diserupakan dengan Nabi Isa. Prof Dr H Mahmud Yunus dalam Tafsir Al-Qur’anul Karim menerjemahkan ayat tersebut, “Sebenarnya Isa itu bukan mereka bunuh atau mereka salibkan, tetapi yang mereka salib itu, adalah orang yang serupa dengan Isa, yang telah dibuat samar” (hlm. 94). Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyatakan, “Syubbiha artinya disamarkan. Yaitu diadakan orang lain, lalu ditimbulkan sangka dalam hati orang yang hendak membunuh itu bahwa orang lain itulah Isa” (Juz 6 hlm. 21).

Penyerupaan wajah orang lain menjadi Yesus sehingga proses penyaliban menjadi salah alamat tersebut, juga didukung data-data dalam Bibel bahwa:
  1. Penangkapan dilakukan pada waktu gelap (Yohanes 18:3).
  2. Salah tangkap menjadi semakin mungkin, karena Yesus punya mukjizat dapat merubah wajah (Matius 17:2).
  3. Para tentara yang melakukan penangkapan tidak ada yang mengenal wajah Yesus, sehingga mereka harus menyewa Yudas untuk menunjukkan siapa Yesus, dengan upah 30 keping uang perak (Matius 26:15).
KISAH PENYALIBAN YESUS PATUT DIRAGUKAN
Pernyataan Al-Qur'an bahwa orang-orang berselisih paham dan ragu-ragu tentang pembunuhan Isa adalah kebenaran yang tak dapat disangkal. Buktinya, laporan penyaliban dalam Bibel penuh kontradiktif dan keraguan, misalnya soal waktu penyaliban.
  1. Menurut Injil Markus 15:25, Yesus disalib pada jam 9: “Hari jam sembilan ketika ia (Yesus) disalibkan.”
  2. Padahal menurut Injil Yohanes 19:14, pada jam 12 Yesus masih belum disalib: “Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas.”
  3. Sementara kedua Injil lainnya, yaitu Matius dan Lukas abstain tidak menulis apapun tentang waktu penyaliban.
Kontradiksi penyaliban Yesus masih banyak lagi, bisa dibaca dalam buku Dokumen Pemalsuan Alkitab terbitan Victory Press.

Penyelamatan terhadap Nabi Isa dari penyaliban adalah tindakan yang sangat tepat dan terhormat. Bukankah Bibel sendiri mengakui bahwa orang yang mati di tiang salib adalah manusia terkutuk:
“…Sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3: 13).

Penyelamatan Tuhan dalam terhadap Nabi Isa dari penyaliban orang-orang kafir adalah tindakan yang Maha Tepat, bukan tipuan seperti tudingan Erwin Lutzer.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”
(Qs. Ali Imran 54).

Maka sungguh aneh tudingan Dr Erwin Lutzer bahwa Tuhan dalam Al-Qur'an melakukan kesalahan dan penipuan. Rupanya Erwin lebih memihak orang kafir yang menginginkan kematian Nabi Isa dengan cara yang terkutuk.
LAPORAN BIBEL TENTANG PENYALIBAN YESUS DIRAGUKAN
Setelah menuding Al-Qur'an berbohong soal keselamatan Yesus dari penyaliban, Dr Erwin Lutzer, mencoba membandingkan validitas Al-Qur'an dan Bibel. Menurutnya, Bibel lebih dipercaya karena Injil saksi mata sehingga laporannya lebih akurat ketimbang Al-Qur'an yang ditulis lebih dari 500 tahun kemudian oleh seorang Muhammad yang bukan saksi mata. Erwin menulis:
“Kitab Injil melaporkan mengenai kematian Yesus dengan kesadaran akan keadaan yang sebenarnya dan secara mendetail yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang merupakan saksi mata dari peristiwa tersebut. Selain para  tentara Romawi, banyak orang yang berkumpul untuk melihat apa yang sedang terjadi saat itu” (hlm. 44).
Dalam pernyataan tersebut, Lutzer berdusta terhadap para murid Yesus, karena para murid Yesus bukanlah saksi mata penyaliban. Terbukti, menurut Bibel, ketika Yesus dibekuk tentara kafir, semua muridnya lari tunggang-langgang meninggalkan Yesus (Markus 14: 46-50).
...Lutzer berdusta terhadap para murid Yesus, karena para murid Yesus bukanlah saksi mata penyaliban...
Bahkan ketika dihadapkan di pengadilan, Yesus sangat membutuhkan pembelaan para muridnya. Tetapi semua murid Yesus tak satupun yang melakukan pembelaan. bahkan Petrus, murid kesayangan Yesus, justru menyangkal dan mengaku tak kenal dengan Yesus (Markus 14: 68-71).

Para penulis keempat Injil pun tak satupun yang menyaksikan peristiwa dengan mata kepalanya. Semua penulis Injil ini bukan murid Yesus, bahkan Injil Markus sampai sekarang masih belum diketahui dengan pasti siapa pengarangnya, karena ia tidak menperkenalkan diri dalam Injil yang ditulisnya. Perhatikan komentar Lembaga Biblika Indonesia dalam Tafsir Injil Markus berikut:

“Pengarang Injil Markus adalah murid Petrus dari Roma, yang menyebutnya 'Markus, anakku'” (I Petrus 5: 13). Belum jelas apakah Markus ini sama dengan Yohanes Markus dari Yerusalem, anak Maria, yang tempatnya digunakan untuk berkumpul dan berdoa jemaat Kristen pertama (Kisah Para Rasul 12: 12).

Tanpa memperkenalkan diri, Markus memulai penulisannya: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Dalam karyanya, Markus tidak menonjolkan diri. Juga tidak menyebut nama sendiri atau menambahkan sesuatu yang dapat menyingkapkan kepribadiannya” (hlm. 9-10).

Jika pengarang Injil itu masih misterius, maka mempercayai karya tulisnya sebagai dasar keimanan adalah kepercayaan yang misterius.
...Jika para penulis Injil itu adalah saksi mata terjadinya penyaliban Yesus, maka bisa dipastikan kontradiksi kronologis itu tidak perlu terjadi...
KONTRADIKSI CERITA PENYALIBAN DALAM BIBEL
Kesimpulan bahwa para penulis Injil bukan saksi mata cerita penyaliban dalam Bibel, semakin diperkuat dengan banyaknya kontradiksi kronologis kisah penyaliban Yesus, misalnya:

a. Tulisan apa yang ada di atas kayu salib?
Injil Matius 27:37 melaporkan bahwa di atas salib Yesus terpampang tulisan “Inilah Yesus Raja orang Yahudi”. Sedangkan Injil Markus 15: 26 melaporkan bahwa tulisan itu berbunyi “Raja orang Yahudi”. Lukas 23:38 membaca bahwa tulisan di salib Yesus adalah “Inilah raja orang Yahudi”. Sangat berbeda dengan laporan Yohanes 19:19 “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”. Ini adalah pertentangan yang nyata.

b. Berapa orang yang mencaci maki Yesus di atas kayu salib?
Menurut Matius 27:44 dan Markus 15: 32, ada dua orang yang mencaci maki Yesus di atas kayu salib. Sedangkan Lukas 3:39 me¬la¬por¬¬kan bahwa yang mencaci Yesus hanya satu orang saja. Jelas kontradiksi, bukan?

c. Apakah Yesus mengecap anggur bercampur empedu?
Matius 27: 33-34 melaporkan bahwa Yesus mengecapnya. Sebaliknya, Markus 15: 23 melaporkan bahwa di atas tiang salib Yesus malah menolak anggur. Bukankah ini sangat kontradiktif?

d. Apakah teriakan Yesus waktu disalib?
Menurut Matius 27: 46-52 dan Markus 15: 34-38, sebelum mati Yesus berteriak “Eli, Eli, lama sabakhtani”, sedangkan Lukas 23: 45-46 mengatakan bahwa teriakan Yesus itu adalah “Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan nyawaku”. Ini pertentangan ayat yang tidak bisa ditemukan, bukan??

e. Siapakah yang menurunkan tubuh Yesus dari tiang salib?
Matius 27: 59-60, Markus 15: 45-46 dan Lukas 23: 53 melaporkan bahwa yang menurunkan mayat Yesus dari tiang salib adalah Yusuf Arimatea sendiri. Tetapi Yohanes 19:38-42 membantah dan melapor¬kan bahwa yang menurunkan adalah Yusuf Arimatea dan Nicodemus. Ini jelas dua versi kisah yang saling berbeda!!
Jika para penulis Injil itu adalah saksi mata terjadinya penyaliban Yesus, maka bisa dipastikan kontradiksi kronologis itu tidak perlu terjadi. Adanya kontradiksi kronologis itu membuktikan bahwa para penulis Injil itu bukanlah saksi mata. Kemungkinan lainnya, kontradiksi itu terjadi bila para penulis Injil adalah orang-orang yang ceroboh atau lemah ingatan.
...Daripada menggugat kitab suci agama lain, lebih bermanfaat bagi Dr Erwin Lutzer jika ia menyelidiki dan memperbaiki kekisruhan Alkitab (Bibel)...
Maka, gugatan Dr Erwin Lutzer terhadap Al-Qur'an tidak relevan dan upaya pemborosan energi. Daripada menggugat kitab suci agama lain, lebih bermanfaat bagi Dr Erwin Lutzer jika ia menyelidiki keruwetan dan problematika Alkitab (Bibel) yang mengisahkan penyaliban Yesus dengan seribu satu kerumitan. [a ahmad hizbullah mag/voa-islam.com]

Selasa, 19 April 2011

Asal mula kata “TUAN” menjadi kata “TUHAN” dalam Alkitab Bahasa Indonesia

Quantcast
Berikut adalah nukilan dari seorang ahli bahasa Indonesia Remy Sylado ketika beliau mencari asal kata TUHAN dalam bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat.
…”Ada lagi perkataan yang hebat sekali, terjadi dalam bahasa orang Indonesia, yang awalnya tersua dalam bahasa tulis Melayu berhuruf Latin, juga melintas dari tradisi gereja, yaitu perkataan yang dengan sendirinya dipahami dari sudut teologi Nasrani, menyangkut substansi ilahi dalam insani. Perkataan yang dimaksudkan adalah Tuan dan Tuhan.
Pemakai bahasa Indonesia semuanya mengerti bahwa perkataan tuan sifatnya insani, dan perkataan tuhan sifatnya ilahi. Artinya, walaupun dalam kata tuan diterangkan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan beberapa catatan, antara lain: satu orang tempat mengabdi, dua yang memberi pekerjaan, tiga orang laki-laki yang patut dihormati, tetap saja dalamnya tidak mengandung pengertian ilahi.
Sebentar lagi kita akan melihat perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam kitab suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Melalui itu dapat gerangan kita simpulkan bahwa pencarian ejaan yang lebih aktual untuk sebutan khusus bagi Isa Almasih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin-yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios-menjadi Tuhan dan sebelumnya Tuan, serta-merta telah melahirkan juga eksegesis yang jamak. Sebelum kita memeriksa bukti itu dengan membuka pelbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut-semuanya masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia, yang sebagian fotokopinya kami sertakan di sini-patutlah terlebih dulu kita melihat juga bagaimana orang Nasrani sekarang mencatat perkataan Tuhan dalam kamus-kamusnya tentang gereja.
Agaknya buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ. Keterangannya di situ, Tuhan, “arti kata ‘Tuhan’ ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik.” Ensiklopedia yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih kita baca lagi dalam ensiklopedianya yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja.
Melihat keterangan itu, dan melihat pula pemakaian kata Tuhan merupakan sesuatu yang mudasir dalam agama Kristen, maka boleh dibilang hal itu sepenuhnya merupakan masalah teologi Kristen. Sesuai data yang kita punyai, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitabsuci Nasrani tersebut. Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai, dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh. Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitabsuci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan.
Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi tuan. Coba kita periksa itu dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injili Paulus kepada umat di Roma. Kita baca bagian 1:1-4, yaitu, “Paulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura). Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.”
Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus. Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran.
Melalui terjemahan Leijdecker-lah kita menemukan perubahan harafiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ‘Elkitab, ija itu segala suat Perdjandjian Lama dan Baharuw atas titah Segala Tuawan Pemarentah Kompanija, pada perikop yang sama dengan terjemahan Brouwerius di atas, teksnya adalah, “Pawlus sa’awrang hamba ‘Isaj ‘Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus). Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-’Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij ‘Isaj Elmeseih Tuhan kamij.”
Jelas, yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan-sama dengan bahasa Portugis Senhor, Perancis Seigneur, Inggris Lord, Belanda Heere-melalui Leijdecker berubah menjadi Tuhan. Nanti pada abad-abad berikut, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut. Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani & ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih-masalah rumit yang memang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon-akhirnya menjadi lema khas dalam bahasa Indonesia.
Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf ‘h’ dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti ‘asut’ menjadi ‘hasut’, ‘utang’ menjadi ‘hutang’, ‘empas’ menjadi ‘hempas’, ‘silakan’ menjadi ‘silakan’, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa. Misalnya tertulis ‘hana’ dibaca ‘ono’, ‘hapa’ dibaca ‘opo’. Di samping itu gagasan Leijdecker mengeja Tuhan untuk mengiring lafaz palatal ‘n’ dengan tepat. Banyak orang yang baru belajar Melayu, bekas budak Portugis asal Goa, terpengaruh Portugis, melafaz ‘n’ menjadi ‘ng’. Juga di Ambon, di pusat tujuan bangsa-bangsa Barat untuk memperoleh rempah-rempah, Tuan dibaca Tuang. Bahkan setelah Leijdecker mengeja Tuhan pun, orang Ambon tetap membacanya Tuang, sampai sekarang. Maka, di Ambon Tuang Ala berarti Tuhan Allah. Selain itu orang Kristen Ambon menyebut Allah Bapa sebagai Tete Manis, harafiahnya berarti ‘kakek yang baik’.
Leijdecker sendiri banyak melakukan kerancuan transliterasi atas kata-kata Melayu dari aksara Arab gundul ke Latin. Melalui contoh acuan perikop di atas, terlihat jelas, bahwa ia tidak mengetahui ketentuan menulis kata-kata Melayu dalam aksara Arab gundul. Umpamanya, agar ‘w’ dan ‘y’ berbunyi ‘o’ dan ‘i’ di depannya harus dipasang alif. Contohnya ‘orang’ adalah (), ‘oleh’ adalah (), ‘itu’ adalah ().
Sudah tentu terjemahan Leijdecker itu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Karenanya, di abad berikut, di zaman penjajahan Inggris, timbul gagasan untuk merevisi terjemahan Leijdecker tersebut. Robert Hutchings, pastor gereja Anglikan, menghitung sekitar 10.000 kata yang diacu Leijdecker itu tidak tersua dalam kamus Melayu karya William Marsden yang standar baru itu. Terjemahan revisi ini terbit pada tahun 1817, dicetak di Serampura, India.
Sebelum itu, dua tahun setelah Gubernur Jenderal Inggris Raffles, menggantikan kedudukan Gubernur Jenderal Belanda Janssens, telah datang seorang zending dari lembaga London Missionary Society, yaitu William Milne, ke Malaka menemui Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, meminta bantuannya untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Lalu, bersama Claudius Thomsen, mereka mengerjakan revisi atas terjemahan Leijdecker tersebut. Abdullah bin Abdulkadir Munsyi merasa terganjel khususnya pada sebutan ‘bapa’ kepada Allah, dan ‘anak Allah’ kepada Isa Almasih. Memang, perkataan itu dipahami pihak Nasrani sebagai acuan teologis, bukan antropologis, untuk mengaktualkan hakikat masyiah dari leluri Ibrani, yang berkonteks diurapi dan bangkit dari kematian.
Setelah itu masih dilakukan lagi revisi-revisi terjemahan Melayu atas kitabsuci Nasrani tersebut oleh pihak zending Inggris. Yang berikut dipimpin oleh Benjamin Keasberry, dan karyanya itu dibantu pula oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Revisi terjemahan ini terbit pada tahun 1852, dicetak di Singapura.
Namun, di antara sekian banyak revisi yang dikerjakan sepanjang abad ke-19 sampai abad ke-20, bahkan sampai bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan Indonesia, terlihat dengan jelas, bahwa lema yang digagas Leijdecker untuk menyebut Isa Almasih, Tuhan, telah terus terpakai. Penyusun kamus di abad ke-19 pun membakukannya sebagai lema tersendiri di luar Tuan.
Terjemahan kitabsuci Nasrani yang dianggap tertib bahasa Melayunya adalah yang dikerjakan Klinkert. Ia membakukan Tuhan dalam kitab terjemahan itu menurut pengertian yang sama dengan bahasa sekarang. Klinkert menulis dua versi, yaitu edisi Melayu rendah, Wasijat Yang Baroe, terbit pada tahun 1875; dan edisi Melayu tinggi, Kitaboe’lkoedoes, terbit pada tahun 1879. Versi yang kedua ini merupakan kitab yang paling populer di Minahasa. Di Minahasalah tempat lahirnya gereja protestan yang berorientasi kebangsaan, lima tahun setelah Sumpah pemuda, yaitu KGPM.
Kini, secara linguistik, tidak ada masalah bagi kata Tuhan yang muradif dengan pengertian ilahi. Nama ini pun sudah maktub dalam Pancasila. Yang tidak kurang melahirkan pertanyaan, mengapa sila pertama itu berbunyi ‘ketuhanan yang mahaesa’, ‘bukan ‘Tuhan yang mahaesa’ saja. Dengan ‘ketuhanan’, terkesan seakan-akan ada banyak Tuhan di Indonesia, tapi hanya satu Tuhan yang mesti disembah. Memang, dalam kalimat ini kita meraba adanya kompromi politis dari pendiri-pendiri republik. Tidak muncul diskusi bahasa mengenai hal itu sebelum amandemen yang lalu.”..-Selesai kutipan-

Remy Sylado ahli bahasa
URL source:
http://www.perisai.net/artikel/dari_mana_asal_kata_tuhan
http://clubbing.kapanlagi.com/showthread.php?t=8106
http://smystery.wordpress.com/2008/07/20/asal-kata-tuhan/

Ulat Bulu Bagian Bioteror AS

.
Jakarta – Menyebarnya ulat bulu di Indonesia diindikasikan ada unsur bioteror dari negara asing terutama Amerika Serikat (AS).
“Ulat bulu yang tersebar di Indonesia ada unsur terornya karena membuat masyarakat menjadi ketakutan. Dan yang memiliki kemampuan menyebarkan spesies dari hewan ini hanya AS, “ kata penulis beberapa buku tentang kejahatan AS, Jerry D Grey kepada itoday, Kamis (14/4).
Menurut Jerry, beberapa informasi yang didapat, ulat bulu ini jenisnya masih baru dan sangat mudah berkembang biak serta menyebar. “Saya juga menghubungi teman yang meneliti ulat bulu, dan menemukan jenis yang sangat baru,” ungkapnya.
Kata Jerry, beberapa negara seperti Brazil yang terkena ulat bulu menimbulkan korban warganya yang tidak sedikit. “Penyebaran ulat bulu jangan dianggap kecil. Ini persoalan besar yang melibatkan kekuatan negara lain,” jelas Jerry.
Pemberantasan yang dilakukan pemerintah dengan menyemprotkan pestisida, kata Jerry tidak akan mematikan tetapi menyebar ke beberapa daerah.
“Biasanya kejadian seperti ini, pihak AS memberikan tawaran obat yang dapat menghilangkan ulat bulu. Ini bagian dari skenario besar dari negara Paman Sam menjual obat-obatnya di Indonesia,” pungkasnya

http://www.indonesiatoday.in/politik/ulat-bulu-bagian-bioteror-as

Senin, 18 April 2011

BERDUSTA DIBOLEHKAN DALAM TEOLOGI KRISTEN

Para misionaris tak pernah berhenti memutar otak untuk memurtadkan umat Islam.
Bermacam-macam strategi telah diformulasikan dan diujicoba, mulai dari sinkretisme, akomodasi, teologi situasional, indigenisasi, inkulturasi, adaptasi, dan seterusnya hingga ditemukanlah strategi kontekstualisasi misi.

Kata "kontekstualisasi" dimasukkan ke dalam perbendaharaan bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Aharon Sapaezian dan Shoki Coe, direktur Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972, pada sidang Ghana Assembly of the International Missionary Council.

Sidang ini membahas isu yang berkaitan dengan pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga (the third mandate programme of the theological education fund).
Di antara faktor yang menuntut strategi kontekstualisasi dalam misi adalah teologi Barat yang dianggap tidak relevan dengan budaya setempat yang menjadi objek misi.
Dengan kata lain, agenda dan program yang "dimasak" di luar negeri tidak cocok untuk situasi di tempat lain (dunia ketiga).

Kontekstualisasi adalah strategi misi yang diupayakan agar Injil bisa dimengerti dan diterima oleh objek misi, dalam dimensi budaya objek misi yang dinamis, baik secara politik, sosial, dan ekonomi.

Pengertian kontekstualisasi yang mudah diterima adalah cara menabur "bibit" tanpa harus menanam pot dan tanahnya. Maksud "bibit" adalah Injil, sedangkan "pot dan tanah" adalah budaya sang pengabar Injil.

Para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan.
Apakah Bibelnya, teologinya, atau berita Injilnya? Sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan, apakah hanya isinya, bentuknya, atau keduanya?

Di kalangan misiolog, ayat yang paling populer untuk mendukung strategi kontekstualisasi dalam misi pekabaran Injil lintas budaya adalah tulisan Paulus dalam Bibel (1 Korintus 9:20-22).

Menurut Paulus dalam ayat ini, untuk menyebarkan misi kepada orang Yahudi, penginjil harus berpura-pura sebagai orang Yahudi, meski penginjil itu bukan orang Yahudi.

Misi kepada orang yang lemah, sang penginjil harus menjadi seperti orang lemah.
Kepada penganut hukum Taurat, maka penginjil harus berpura-pura sebagai orang yang hidup di bawah hukum Taurat.

Di Indonesia, penerapan strategi kontekstualisasi yang meniru gaya Paulus ini kerap kali membuahkan gesekan dengan umat Islam. Karena strategi kontekstualisasi itu identik wujudnya dengan jurus serigala berbulu domba, musang berbulu ayam.

Kepada umat Islam, para penginjil berpenampilan seperti orang alim, padahal mereka adalah serigala yang menyeringai, setiap saat siap memurtadkan akidah umat Islam. Pendeta Rudy Muhammad Nurdin misalnya.

Ketika menerapkan strategi kontektualisasi, ia menerjemahkan pesan Paulus dalam 1 Korintus 9:20, bahwa kepada orang Yahudi, harus seperti Yahudi.

Kepada kaum muslimin, harus seperti orang Islam dan memakai Al-Qur'an dalam penginjilan, supaya orang Islam tidak marah. Dalam praktiknya, Nurdin menulis belasan buku Kristen berkedok Islam, antara lain:

Ayat-ayat Penting di dalam Al-Qur'an, Keselamatan di dalam Islam,
Rahasia Allah Yang Paling Besar (as-Sirrullahi al-Akbar), Isa Alaihi
Salam dalam Al-Qur'an, Selamat Natal Menurut Al-Qur'an, dll.

Di Bandung, Pnt. Andereas Samudera menerjemahkan strategi kontekstualisasi dalam makalah berjudul "Power Evangelism." Kepada umat Islam, Andreas mengistilahkan penginjilan sebagai "Pertolongan Bagi Orang Muslim."

Menurutnya prinsip penginjilan kepada umat Islam adalah sbb:

"Dalam rangka menolong seorang Muslim memecahkan masalah mereka, sementara dengan adanya berbagai perbedaan keyakinan kedua kepercayaan ini, kami berusaha mencari hal-hal yang dapat disepakati bersama.

Kami menemukan bahwa walaupun secara teologis banyak perbedaan pandang antara faham Kristiani dan Islam, namun ternyata ada banyak juga titik-titik temu dari Al-Qur'an yang dapat dijadikan dasar iman untuk menolong mereka sehingga mereka boleh menerima pertolongan kesembuhan secara spiritual.

Dimulai dari titik-titik temu itulah, kuasa Tuhan boleh memasuki kehidupan mereka dan mempersiapkan hati mereka untuk menerima Tuhan Yesus. Di bawah ini beberapa ayat Al-Qur'an yang berguna untuk mengadakan pendekatan kepada mereka."

Setelah itu, Andreas mengutip ayat-ayat Al-Qur'an yang berbicara tentang Nabi Isa (Yesus).

Ayat-ayat itu dirakit sedemikian rupa, disambung dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang lain dan ditutup dengan ayat-ayat Bibel, sehingga terkesan seolah-olah Al-Qur'an meneguhkan doktrin Kristen tentang ketuhanan Yesus.

Usai merakit ayat-ayat Al-Qur'an dan Bibel, Andreas menyimpulkan, "Otoritas di bumi dan di sorga.
Karena urapan pemberian Allah itu maka Isa bin Maryam telah menerima otoritas yang amat besar selama di bumi dan juga di surga.

Demikian pula para pengikutnya sampai pada hari kiamat...
Isa bin Maryam adalah Jalan Yang Lurus yang dicari semua orang.

Misi kontekstualisasi Kristen kepada umat Islam itu semakin menipu dengan idiom-idiom Islam yang dicaplok Kristen untuk memuluskan pemurtadan. Anehnya, istilah-istilah caplokan ini mereka tonjolkan ketika berhadapan dengan umat Islam, misalnya: Hari Raya Natal diarabkan
menjadi hari Maulud Nabi Isa, syahadat (diterjemahkan dari istilah teologi credo), allohummagfirli, shalat rabbaniyah, dakwah ukhuwah, shirathal mustaqiim, tauhid kristiani, dan masih banyak lagi.

Apapun namanya, yang namanya menipu jelas tidak terpuji.

Lebih-lebih jika tipuan itu dilakukan di wilayah religius.

Maka sangat aneh jika kontekstualisasi misi yang kental dengan tipuan dan akal bulus itu dimanfaatkan para penginjil untuk memasyhurkan nama Tuhan.

Lebih aneh lagi, ternyata dalam teologi Kristiani, berdusta (berbohong) untuk memuliakan Tuhan itu diizinkan Paulus:

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7).

Memuliakan Tuhan dengan kedustaan adalah dua hal yang bertolakbelakang.
Kedustaan adalah tindakan dosa dan tercela. Apakah mungkin memuliakan Tuhan yang Maha Baik dengan perbuatan yang tidak baik?

ADAKAH TRINITAS DALAM ALKITAB ??? (Yuk, kita intip)

Ayat Trinitas dalam Alkitab/Bible

Mungkin memang Trinitas bukanlah sesuatu ajaran yg logis menurut pikiran manusia, tapi tetap harus dipercayai karena terdapat ayat2x dalam Bible yg menyatakan hal itu, baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru. Demikian menurut umat Kristen. Benarkah? Kita akan lihat.

Ada yg mengatakan bahwa pada kitab Kejadian di Perjanjian Lama terdapat informasi yg dapat kita simpulkan sebagai bukti adanya Trinitas. Saya katakan, hal itu jelas2x dipaksakan. Tidak ada satupun ayat di dalam kitab Kejadian yg menyatakan dg jelas tentang adanya Trinitas. Bahkan kitab Kejadian itu sangat penuh dg masalah seperti yg terdapat pada proses penciptaan alam semesta yg sama sekali tidak logis dan bertentangan dg ilmu pengetahuan modern yg telah terbukti secara empiris (semoga lain waktu saya bisa membahas dan membuktikannya di blog ini, insyaallah) Bahkan kata “Trinitas” itu sendiri juga tidak ada dalam keseluruhan Alkitab.

Kata2x …Allah menciptakan…, …Roh Allah melayang-layang…, …Berfirmanlah Allah… pada Kejadian 1: 1-3 tidaklah dapat dipahami sebagai Tuhan Bapa, Roh kudus, dan Yesus (Firman). Apalagi menyatakan kalau mereka adalah satu Tuhan dan bukannya tiga Tuhan. Kalau anda membaca ayat2xnya dg lengkap, anda akan setuju dg saya. Bunyi ayatnya demikian :

1:1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

1:3. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Bagian mana yg menyatakan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Putra (Yesus), dan Tuhan Roh kudus disana? Mana pula yg menyatakan ketiganya adalah satu Tuhan, bukan tiga Tuhan? Tidak ada! Menggunakan ayat itu untuk menyatakan bukti Trinitas di Alkitab jelas adalah suatu hal yg dipaksakan.

Ada lagi yg menggunakan ayat dalam Matius 28 : 19 untuk menyatakan konsep Trinitas dalam Bible. Bunyi ayatnya sebagai berikut :

28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,

Apakah ayat ini dapat menyatakan Trinitas? Sama sekali tidak. Membaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidaklah berarti bahwa mereka (ketiganya) adalah satu. Membaptis dg tiga oknum bukan berarti ketiganya adalah satu oknum yg sama. Kalau ada yg berkata : “undanglah mereka ke pesta kita atas nama Tukul, Pepi, dan Ngatini”, itu tidaklah berarti kalau Tukul, Pepi, dan Ngatini itu adalah satu orang yg sama. Tidak, itu tidak logis. Tanpa menambahkan kata “Allah” di depan masing2x menjadi : Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa ayat itu dimaksudkan sebagai unsur ketuhanan. Kalaupun ayat ini dimaksudkan untuk membaptis dg nama “Tuhan”, maka artinya di sana bukan ada satu Tuhan tapi tiga Tuhan. Dan umat Kristen mengaku tidak percaya pada tiga Tuhan, tapi pada satu Tuhan yg berwujud tiga oknum Tuhan. Jadi jelas ayat ini juga tidak dapat dipakai untuk menyatakan adanya konsep Trinitas di Alkitab.

Masih beberapa ayat lagi yg sering dipakai untuk menyatakan adanya konsep Trinitas di Alkitab, tapi semuanya tidak dapat mencapai tujuan yg diinginkan dg jelas, semuanya hanya penjelasan yg dipaksakan yg tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan logis, yg semakin jelas menunjukkan bahwa sebenarnya konsep Trinitas memang tidak ada di Alkitab.

Satu-satunya ayat di Alkitab yg paling dekat dg konsep Trinitas (dan memang hanya satu2xnya) yg selalu dijadikan rujukan utama dalam menyatakan bukti konsep Trinitas di Alkitab adalah : 1 Yohanes 5 : 7-8

“Ada tiga yg memberi kesaksian, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu”. Kalimat ini sangat jelas menyatakan bahwa ketiga oknum yaitu : Bapa (Allah), Putra (Yesus), dan Roh Kudus, adalah satu oknum yg sama, dan karenanya sangat dekat dg konsep Trinitas yg dipercayai dalam ajaran Kristen sehari-hari.

Bunyi lengkap ayatnya sebagai berikut :

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Tetapi ayat ini ternyata adalah salah satu ayat yg paling bermasalah dalam Alkitab. Kenapa? Tidakkah anda melihat adanya kejanggalan di sana? Apakah itu? Ya, anda benar. Di sana terdapat kata2x yg diletakkan dalam tanda kurung! Kenapa demikian? Apa artinya tanda kurung itu, dan mengapa ada kalimat yg diletakkan di dalam tanda kurung itu? Ya, anda benar lagi. Dalam kitab suci, kata2x yg berada dalam tanda kurung adalah dimaksudkan sebagai penjelasan dari penulis/penerjemah bila ingin membuat bunyi ayatnya menjadi jelas maksudnya. Hal ini terdapat dalam bagian2x lain di Alkitab, juga bahkan terdapat dalam terjemahan kitab suci Al-Qur’an untuk menjelaskan maksud ayat2xnya tanpa mengubah bunyi ayatnya yg asli.

Dan itu artinya adalah : kalimat yg berada dalam tanda kurung itu adalah bukan bunyi ayat aslinya, bunyi ayat aslinya akan anda dapatkan kalau anda menghilangkan seluruh kata dalam tanda kurung itu. Jadi bunyi ayat aslinya adalah :

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian : Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Anda lihat! Bila semua kata dalam kurung dihilangkan, bunyi ayat menjadi sangat berbeda artinya. Bunyi ayat aslinya ternyata sama sekali tidak mencantumkan apa yg dianggap sebagai konsep Trinitas dalam Alkitab. Jadi jelasnya, konsep Trinitas dalam ayat2x tsb adalah sesuatu yg ditambahkan, disisipkan ke dalam bunyi ayat yg aslinya. Dan karenanya adalah palsu.

Kalau anda membaca Bible versi terbitan baru, bunyi ayat itu sudah dikembalikan ke bentuk aslinya dg menghapus kata2x tentang Trinitas yg dalam Bible terbitan lama telah disisipkan itu. Pengembalian ke bentuk asli ayat dalam naskah tertua ini didukung oleh 32 sarjana Kristen terbaik di dunia dan 52 golongan utama dalam Kristen, dalam suatu penelitian yg menyimpulkan bahwa dari naskah2x tertua yg diketahui dan masih ada, telah diketahui bahwa bunyi ayat yg terdapat di naskah2x tertua adalah tidak menyertakan kalimat yg menyatakan Trinitas itu tadi.

Kalau anda membuka bersamaan beberapa versi Alkitab/Bible, anda akan tahu perbedaannya.

Injil Katolik Roma (Douay version / Roman Catholic Version – RCV) diterbitkan di Rheims pada tahun 1582, dari terjemahan Injil berbahasa latin Jerome, dan diproduksi di Douay pada tahun 1609, merupakan Injil versi tertua yg masih dapat dibeli saat ini. Sedang versi Injil yg diautorisasi diterbitkan pada tahun 1611 dg kehendak dan perintah King James, maka kemudian dikenal sebagai Injil AV (Authorised Version) atau KJV (King James Version). Dan Injil2x itu telah mengalami beberapa kali revisi (?) hingga versi terbaru sekarang ini yg sudah banyak terdapat revisi2x dari versi sebelumnya.

Holy Bible King James Version (KJV) terbitan Amerika tahun 1972 :

1 John 5: 7-8

5:7 For there are three that bear record in heaven, the Father, the Word, and the Holy Ghost: and these three are one.

5:8 And there are three that bear witness in earth, the Spirit, and the water, and the blood: and these three agree in one.

Holy Bible New International Version (NIV) terbitan Amerika tahun 2004 :

1 John 5: 7-8

5:7 For there are three that testify:

5:8 the Spirit, the water and the blood; and the three are in agreement.

Footnote : Late manuscripts of the Vulgate testify in heaven: the Father, the Word and the Holy Spirit, and these three are one. And there are three that testify on earth: the (not found in any Greek manuscript before the sixteenth century)

Alkitab bahasa Indonesia (LAI) terbitan Indonesia tahun 1974 :

I Yohanes 5: 7-8

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

Dan ketiga versi Alkitab/Bible yg saya kutip ini semuanya tidak ada yg dilarang beredar, dan dapat dibeli dg bebas di toko buku manapun yg menjualnya (misalnya Bible NIV milik saya itu saya beli di Gramedia Jakarta awal 2007 ini). Dan ketiganya saya miliki dalam koleksi saya di rumah.

Dari ketiga teks di atas, anda dapat membandingkan sendiri bagaimana perbedaan2x dalam versi2x Alkitab/Bible itu, dan anda dapat mengambil kesimpulan sehubungan dg topik yg sedang kita bahas, yaitu ayat Trinitas dalam Alkitab.

King James Version adalah yg paling “rusak” karena ayat tsb ditulis seolah-olah memang demikianlah bunyi dari ayat aslinya dg tidak adanya tanda kurung yg seharusnya menyertainya. Wajar saja karena saat dibuat (tahun 1611) Bible masih eksklusif dan hanya menjadi hak bagi kalangan gereja dan penguasa tertentu saja yg boleh membukanya, karena itu pengeditan isi Bible oleh pihak2x tertentu dg tendensi tertentu pula, menjadi sangat mungkin karena kurangnya kontrol dari umat.

Dalam buku Misquoting Jesus, kesalahan penyalinan dalam kitab Perjanjian Baru, Bart D. Ehrman menyatakan bahwa : “The King James Bible didasarkan atas manuskrip2x menyimpang dan bermutu rendah yang seringkali tidak dengan akurat mewakili makna naskah aslinya.”

Dan Alkitab terjemahan Indonesia yg dibuat oleh LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) sudah “agak lumayan” dg memberikan tanda kurung pada kalimat tambahan tadi, akan tetapi terlihat masih “takut2x” dalam memberikan informasi, dimana ayat yg bersangkutan sudah diberi tanda kurung untuk kata2x tambahan, tapi tidak ada penjelasan apapun di catatan kaki tentang apa yg dimaksudkan dg kata2x dalam kurung itu tadi, sedangkan pada Bible NIV sudah diberi catatan kaki bahwa bagian yg dihapus dari ayat tsb adalah tambahan/sisipan yg tidak ada dalam naskah tertua yg dikenal.

Jadi sangat jelas bahwa Trinitas sebenarnya tidak pernah ada dalam Alkitab/Bible. Satu2xnya ayat yg dg gamblang menjelaskan tentang itu ternyata telah terbukti sebagai suatu pemalsuan.

Maksud arti kata "KALIMAT" dan "RUH ALLAH" yang disandangkan pada Nabi Isa as.

Persoalan tersebut seringkali disalah fahami sehingga bisa menjerumuskan kita kepada hal-hal yang dilarang oleh agama dalam hal ini kekufuran. Beberapa buku sejarah menyatakan bahwa dulu pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik (Bani Umayah), ada seorang pendeta bernama Johannes berasal dari Damascus sengaja mengajari kaum-kaumnya untuk menyerang kaum muslimin dengan melalui debat teologi yang tujuannya tiada lain hanya untuk membuat kaum muslimin ragu dengan keimanannya sendiri. 
 
Di antara bahan debat itu adalah masalah nabi Isa AS sebagai kalimatullah dan ruhullah. Secara singkat, ujung/kesimpulan dari debat ini adalah bahwa Allah SWT (di mata mereka) bukan merupakan Al Khaliq (pencipta) tapi makhluq (yang dicipta) karena "kalimat" dan "ruh" memang merupakan sesuatu yang diciptakan (makhluq). 
 
Tentu saja kesimpulan seperti itu jelas keliru, karena diambil melalui logika yang menyesatkan (sophistry). Jika kita ikuti perdebatan seperti ini, kitapun akan terjerumus ke dalam kesimpulan yang menyesatkan itu, apalagi jika keimanan kita masih lemah. 
 
Yang jelas, secara singkat pula, penjelasan kami atas persoalan anda adalah sbb: Allah berfirman yang kurang lebih berarti, "Sesungguhnya Isa bin Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimatNYA yang diturunkan kepada Maryam dan (Isa juga) merupakan ruh dariNYA". Jika ayat itu anda fahami secara dangkal, maka anda akan kembali kepada kesimpulan menyesatkan seperti di atas. 
 
Pemahaman yang benar atas ayat tersebut adalah: Isa AS diciptakan melalui perantara kalimat Allah yang berupa "Kun" (jadilah engkau wahai Isa). Sedangkan penyebutan "ruh" dalam ayat tadi adalah untuk menunjukkan bahwa Isa memang manusia biasa, bukan tuhan. Sebab manusia memang diciptakan dengan dikaruniai ruh dan ruh itu sendiri hanya Allah yang bisa menciptakannya. Demikian, semoga dapat membantu. 
 
Wassalam.

Islam di Amerika Datang Lebih Dahulu Sebelum Columbus

Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai ‘The New World’ ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah ‘Dunia Baru’. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.

Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.

”Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,” tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.

Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. “Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,” papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.

Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.

Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.

Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.

Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi ‘Yasus bin Maria’ yang dalam bahasa Arab berarti “Yesus, anak Maria”. “Ini bukan frase Kristen,” cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.

Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.

Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.

Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.

Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.

Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.

Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ”Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,” papar Youssef.

Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika – apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar.