@BKS hadir untuk mengungkap KEKRISTENAN yang dianggap TABU ...TINGGALKAN JEJAK ANDA DI KOLOM KOMENTAR ...terima kasih....

Selasa, 27 Desember 2011

Injil Karangan Matius



Di antara empat Injil, Injil Matius adalah yang pertama dalam urutan kitab-kitab (fasal-fasal) Perjanjian Baru.
Hal ini memang tepat oleh karena Injil Matius hanya merupakan kelanjutan dan Perjanjian Lama. Injil tersebut ditulis untuk menunjukkan bahwa “Yesus telah menamatkan sejarah Bani Israil” yaitu seperti yang dikatakan oleh para pengarang “Terjemahan Ekumenik daripada Bibel” yang akan banyak kita kutip. Karena maksud tersebut di atas, Matius selalu mengutip dari Perjanjian Lama, serta menunjukkan bahwa Yesus telah berbuat sebagai Al Masih (Pemimpin yang diakui oleh rakyat dengan upacara mengusapkan minyak kasturi ke badannya) yang telah lama dinanti oleh orang-orang Yahudi.

Injil ini bermula dengan menyebutkan silsilah keturunan Yesus.Matius rnenunjukkan bahwa asal-usul Yesus itu
sampai kepada nabi Ibrahim melalui nabi Dawud. Kita akan menemukan kesalahan teks yang biasanya dianggap sepi oleh para ahli tafsir Injil. Bagaimanapun keadaannya, maksud Matius adalah jelas, yaitu untuk mempergunakan hubungan keturunan dengan Ibrahim sebagai bukti bahwa karangannya itu mempunyai suatu tujuan dan maksud. Matius mengikuti garis yang sama dengan selalu menonjolkan sikap Yesus terhadap hukum-hukum Yahudi yang mengandung tiga prinsip besar yaitu: sembahyang, puasa dan sedekah.

Yesus ingin menyampaikan ajarannya pertama-tama kepada rakyatnya. Ia berkata kepada para rasul yang dua belas: Jangan mengikuti jalannya orang kafir dan jangan masuk ke kotanya orang-orang Samara; lebih baik. pergilah kepada domba-domba Bani Israil yang hilang” (Matius 15, 24).
Pada akhir Injilnya, Matius memperluas tugas para murid-murid Yesus yang pertama dan melukiskan Yesus
sebagai memerintahkan: “Pergilah dan timbulkan pengikut-pengikut dari segala bangsa (Matius 28, 19),
tetapi permulaan dakwah harus diutamakan untuk Bani Israil.” Mengenai Injil Matius ini, A. Tricot menulis: “Injil Matius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi.”

Pandangan-pandangan tersebut di atas menempatkan asal Injil Matius dalam tradisi masyarakat Yahudi Kristen, yang sebagaimana dikatakan oleh O. Culmann, berusaha sekuat-kuatnya untuk melepaskan diri dan ikatan agama-agama Yahudi, tetapi dengan tetap memelihara kontinuitas Perjanjian Lama. Pokok-pokok perhatian dan nada kitab Injil Matius pada umumnya menunjukkan adanya situasi yang tegang.

Faktor-faktor politik juga terasa dalam teks. Pendudukan Kerajaan Romawi di Palestina menyalakan semangat bangsa Yahudi untuk mencapai kemerdekaan, dan mereka berdo’a kepada Tuhan untuk membantu bangsa yang Ia pilih daripada bermacam-macam bangsa. Tuhannya Israil adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan yang dapat memberi bantuan langsung dalam urusan-urusan manusia, sebagaimana Ia telah berbuat berkali-kali dalam sejarah.

Siapakah Matius itu?
Kita mengatakan dengan tegas bahwa pada waktu sekarang ia tidak lagi dianggap sebagai sahabat Yesus. A. Tricot menggambarkan Matius dalam tafsirnya terhadap Terjemahan Perjanjian Baru tahun 1960 sebagai berikut: “Matius alias Levi adalah seorang pegawal kantor bea cukai di distrik Kafrna’um ketika ia diminta oleh Yesus supaya menjadi salah satu dari pengikut-pengikutnya.” Begitulah yang dikatakan oleh pemimpin pemimpin Gereja seperti Origene, Yerome dan Epihane. Tetapi sekarang orang berpendapat lain;
suatu hal yang tak dapat disangkal adalah bahwa Matius adalah seorang Yahudi, kata-katanya adalah kata-kata dari daerah Palestina, sedang susunan kata-katanya adalah Yunani. Pengarang (Matius) mengarahkan karangannya kepada kelompok yang berbicara dengan bahasa Yunani, mengetahui adat kebiasaan Yahudi dan bangsa Aramaik; begitulah menurut O. Culmann.

Menurut ahli-ahli tafsir “Terjemahan Ekumenik,” asal usul Injil Matius adalah sebagai berikut:
“Biasanya orang berpendapat bahwa Injil Matius ditulis di Syria atau di Phenisie karena di tempat tersebut terdapat banyak orang-orang Yahudi. Kita dapat merasakan suatu polemik melawan agama Yahudi Sinagog yang ortodoks yang dianut oleh kaum Parisi sebagaimana yang terjadi dalam Konferensi Sinagog di Yamina kira-kira pada tahun 80. Dalam keadaan keadaan semacam itu banyak pengarang-pengarang yang mengatakan bahwa Injil Matius ditulis di antara tahun 80 90, atau mungkin lebih dahulu sedikit, karena tak ada cara untuk mencari kepastian.”

“Oleh karena kita tidak mengetahui nama pengarang yang sesungguhnya, maka kita akan terpaksa merasa puas dengan sifat-sifat yang diterangkan dalam Injil tersebut; pengarang dapat dikenal dengan pekerjaannya.
Ia mahir dalam pengetahuan tentang kitab-kitab suci, tradisi Yahudi, kenal dan menghormati pembesar-pembesar agama daripada bangsanya tetapi menghadapkan persoalan-persoalan kepada mereka dengan kasar; ia mahir dalam mengajar dan dalam memperkenalkan Yesus kepada para pendengar, selalu mendesakkan akibat-akibat praktis tentang ajaran-ajarannya, ia membalas baik terhadap sinyalemen seorang Yahudi terpelajar yang menjadi pemeluk agama Kristen, seorang pemilik rumah yang dapat mengeluarkan dari simpanannya hal-hal yang baru atau lama, seperti yang dikatakan oleh Matius 13, 52. Dengan gambaran seperti di atas, kita menjadi jauh daripada seorang pegawai kantor di Kafrna’um yang diberi nama Levi oleh Markus dan Lukas dan kemudian menjadi salah satu daripada dua belas orang sahabat Yesus. Semua orang setuju untuk mengatakan bahwa Matius menulis Injilnya dengan mengambil bahan daripada sumber yang sama dengan sumbernya Markus dan Lukas. Akan tetapi riwayatnya berlainan dalam hal-hal yang pokok
sebagai yang akan kita lihat nanti. Walaupun begitu Matius telah mempergunakan Injil Markus, padahal Markus bukan muridnya Yesus,” begitulah kata O. Culmann. Matius bersikap liberal (bebas) terhadap teks-teks.

Kita akan menemukannya mengutip silsilah keturunan Yesus dari Perjanjian Lama dan diletakkannya pada
permulaan Injilnya. Ia menyelipkan dalam Injilnya hikayat-hikayat yang tak dapat dipercayai (incroyable).
Kata: “tak dapat dipercayai” adalah kata yang dipakai oleh R.P. Kannengiesser pada bukunya Foi en la
Resurrection, Resurrection de la foi (Percaya terhadap hidup kembalinya Yesus, kembali hidupnya kepercayaan) dalam hikayat hidupnya Yesus kembali, yakni dalam hal yang mengenai “pengawal.” Ia menunjukkan “kurang bobotnya sejarah pengawal militer kuburan; pengawal militer kuburan itu adalah tentara Kafir yang tidak ada hubungannya dengan atasan mereka, akan tetapi mereka melapor kepada para pendeta besar yang menggaji mereka untuk mengatakan kebohongan-kebohongan.”

Tetapi R.P. Kannengiesser menambahkan: “Kita tidak boleh mencemoohkan, karena maksud Matius adalah sangat baik, oleh karena ia mempersatukan bahan-bahan kuna tradisi lisan dengan karya yang ditulisnya. Penyajiannya mirip dengan Yesus Christ Superstar. Penelitian-penelitian tentang Matius ini berasalkan dari seorang besar ahli teologi, seorang Professor dari Lembaga Katolik di Paris.

Matius menyebutkan dalam tulisannya kejadian-kejadian yang berbarengan dengan matinya Yesus; ini adalah suatu contoh lain tentang khayalannya. Beginilah bunyinya: Setelah tutup daripada tempat suci itu robek menjadi dua, dari atas ke bawah, maka bumipun bergeraklah, batu-batu luluh, kuburan-kuburan menjadi terbuka, mayat-mayat para wali menjadi hidup. Setelah Yesus bangkit kembali, mayat-mayat hidup itupun masuk ke kota suci dan memperlihatkan diri kepada orang banyak.

Paragraf daripada Matius ini (27, 51-53) tak ada bandingannya dalam Injil-Injil lainnya. Kita tidak
mengerti bagaimana mayat-mayat para wali dapat bangun hidup kembali pada waktu wafatnya Yesus (malam Sabat seperti yang tersebut dalam Injil-Injil) dan tidak keluar dari kuburan mereka sampai Yesus bangkit kembali {keesokan hari sesudah Sabat, menurut sumber-sumber itu juga).
Barangkali hanya dalam Injil Matius kita dapatkan kekeliruan-kekeliruan yang sangat menyolok dan tidak
dapat dipertahankan lagi, yaitu hal yang dilukiskan sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Yesus.
Matius meriwayatkan dalam Injilnya (12, 38-40) dongengan tentang alamat Yunus:
Yesus berada di tengah-tengah para ahli agama Yahudi dan orang-orang Parisi yang berkata kepadanya: “Ya
Tuan. Guru, kami mengharap tuan Guru menunjukkan suatu alamat kepada kami,” Yesus menjawab: “Generasi jahat dan pelacurlah yang minta suatu alamat. Tak ada suatu alamat yang akan diberikan kepadanya kecuali alamat nabi Yunus. Karena sebagaimana Yunus berada dalam perut monster tiga hari dan tiga malam, begitu juga anak manusia (Yesus sendiri) akan berada di dalam tanah tiga hari dan tiga malam.” (teks terjemahan Ekumenik).

Sebagai tersebut di atas, Yesus mengumumkan bahwa ia akan berada dalam tanah tiga hari dan tiga malam. Padahal Matius dan juga Lukas dan Markus menyebutkan dalam Injil mereka, bahwa wafatnya Yesus dan
penguburannya terjadi pada hari Sabtu malam. Ini berarti bahwa Yesus berada di dalam tanah selama tiga
hari. Akan tetapi semua kejadian itu hanya mengandung dua malam.

Biasanya para ahli tafsir Injil menutup mulut terhadap hikayat ini. Meskipun begitu R.P. Rouguet menunjukkan
kekeliruan tersebut karena ia mengatakan bahwa hari itu hanya ada satu hari penuh, dan dua malam. Tetapi R.P. Rouguet menambahkan: “tetapi kalimat-kalimat itu diringkaskan dan hanya mempunyai satu arti yaitu tiga
hari.” Adalah menyedihkan jika kita melihat para ahli tafsir memakai argumentasi-argumentasi yang tidak
mempunyai arti positif, padahal seandainya mereka mengatakan bahwa ketidak serasian itu disebabkan oleh
kekeliruan yang membuat naskah, keterangan mereka akan sangat memuaskan akal dan pikiran.

Yang menjadi ciri-ciri Injil Matius selain kekeliruan-kekeliruan tersebut di atas, adalah bahwa Injil Matius merupakan Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matius ini mempunyai arti yang sangat penting jika di pandang
dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar